Kisah Sang ‘Manuk Bekhuga’ dari Tanah Semaka, Pangeran Indra Bangsawan Mochtar Hasan

  • Whatsapp
Pangeran Alprinse Syah Pernong (kiri). Foto kanan Almarhum Hi. Mochtar Hasan, SH, glr. Pangeran Indra Bangsawan. Foto Istimewa
Pangeran Alprinse Syah Pernong (kiri). Foto kanan Almarhum Hi. Mochtar Hasan, SH, glr. Pangeran Indra Bangsawan. Foto Istimewa

Seorang pemimpin melahirkan pemimpin. Karakter dasar seorang pemimpin juga terbentuk dari nenek moyangnya yang juga seorang pemimpin. Di jaman dahulu, terbentuknya seorang pemimpin salah satunya hasil dari seleksi alam. Hasil sebuah pertarungan yang dimenangkan seseorang hingga akhirnya dia bisa menjadi pemimpin.

Demikian salah satu petikan perbincangan radarcom.id dengan Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Edward Syah Pernong Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 terkait dengan sosok Almarhum Hi. Mochtar Hasan, SH, salah satu tokoh Lampung yang bergelar Pangeran Indra Bangsawan dari Kebandaran Rajabasa Semoung Tanggamus.

Bacaan Lainnya

Almarhum Mochtar Hasan wafat pada 2 September 2019 di RS Cinere Jakarta pada usia 87 tahun. Almarhum merupakan ayah mertua dari Pangeran Edward Syah Pernong. Atau ayah dari istri Pangeran Edward yakni YM Peniakan Ratu Ir. Nurul Adiyati Ratu Mas Itton Dalom Ratu Kepaksian Pernong.

Pangeran Edward Syah Pernong menceritakan, Alm. Mochtar Hasan bergelar Pangeran Indra Bangsawan adalah generasi ke-12 di Kebandaran Rajabasa Semoung dari generasi pertama Pangeran Rasamenggala.

“Beliau adalah generasi ke-12 dari generasi pertama Pangeran Rasamenggala. Mereka setelah mendirikan keadatan afiliasinya lebih banyak berinteraksi dengan kerajaan Banten,” kata Pun Edward—sapaan Pangeran Edward Syah Pernong, Selasa (3/9/2019).

Terkait pidatonya yang cukup menggetarkan saat wafatnya Almarhum, dimana Pun Edward menyebutkan bahwa ‘Hari ini Sang Manuk Bekhuga dari Tanah Semaka telah wafat. Mudah-mudahan akan muncul Manuk-manuk Bekhuga lainnya yang juga Terbang Dimana-mana, Bertarung Dimana-mana, Menang Dimana-mana’.

Pun Edward menyatakan ada kisah tersendiri mengapa Almarhum Mochtar Hasan disebut Manuk Bekhuga dari Tanah Semaka.

“Banyak yang belum tahu, sejak dulu dari daerah Semaka Tanggamus ini telah memunculkan calon-calon kader. Seperti Akan (Ayah, Red) Mochtar Hasan dan Tabrani Daud. Beliau adalah orang-orang yang sudah sejak kecil aktif di kepanduan aktif di kegiatan kemasyarakat dan kegiatan masalah kecintaan terhadap negeri. Seperti aktif di Pandu Hizbul Wathon,” terangnya.

Selain itu, Mochtar Hasan juga tercatat sebagai seorang tentara pelajar. “Saat perang kemerdekaan, Akan Mochtar Hasan ini ikut memberikan mendukung masyarakat melawan penjajah. Diantaranya dengan memberikan dukungan informasi kepada gerilyawan Indonesia sehingga Akan pun mendapat penghargaan sebagai veteran. Karena beliau juga sebagai tentara pelajar,” ungkapnya.

Terkait awal mula sebutan Manuk Bekhuga Jak Semaka, imbuh mantan Kapolda Lampung itu, Akan Mochtar Hasan ini merupakan tokoh dari Semaka Tanggamus, Pesawaran, Pringsewu. Dikenal sejak kecil. Sampai menjadi sebagai Sekda Provinsi pertama sebagai Manuk Bekhuga Jak Semaka (Ayam Hutan dari Semaka). Istilahnya berkokok dimana-mana, bertarung dimana-mana dan jadi pemenang dimana-mana. Juga sangat disayangi oleh masyarakat Tanggamus dan Pesawaran dulu saat masih menjadi satu dan belum pemekaran.

Mochtar Hasan merupakan anak dari Pangeran Ibnu Hasan, tokoh dari Kebandaran Rajabasa Semoung.

“Di Semaka, dulu 13 kebandaran dipegang 1 Saibatin. Secara umum mereka merupakan turunan dari dari bangsa Sekala Brak yang kemudian mendirikan 13 Kebandaran di Tanggamus dan Pringsewu. Inilah kemudian menjadi Kebandaran Rajabasa Semoung. Dikenal dengan masyarakatnya yang ganas. Karakter masyarakatnya yang temperamen ini membuat Belanda saat itu bahkan memberikan perhatian khusus ke wilayah ini,” terangnya.

Salah satu contohnya adalah hampir meletusnya perang di Pesisir kala itu. Dimana Pangeran Ibnu Hasan merupakan Saibatin di Kebandaran Rajabasa Semoung. Kala itu, Pangeran Ibnu Hasan tak mau mengambil cuki (pajak) yang tinggi dari rakyatnya.

Hal ini membuat Belanda marah dan mengutus controller-nya di wilayah setempat. Lalu digelarlah rapat untuk mempertanyakan hasil-hasil cuki.

“Ternyata hasil cuki (pajak) dari Kebandaran Semoung ini kecil. Padahal masyarakatnya banyak. Sehingga pada waktu itu controller menegur. Bagaimana ini, dari kebandaran Rajabasa Semoung kenapa kok hasil pajaknya kecil? Kata Pangeran Ibnu Hasan, seperti dikisahkan oleh Akan Mochtar Hasan, panen banyak yang tidak jadi. Kebun juga tidak banyak yang tidak berbuah. Ini alasan Pangeran Ibnu Hasan karena tak mau mengambil pajak tinggi kepada rakyat saat itu. Namun controller mengatakan di tempat yang lain pajaknya besar-besar. Disebutkan oleh controller bahwa Pangeran Ibnu Hasan tak mampu, tidak berguna sebagai seorang tokoh? Mendengar itu, Pangeran Ibnu Hasan langsung berdiri maju dan mencabut keris. Kata Pengeran Ibnu Hasan; Turun kamu controller jangan permalukan seorang Saibatin di Tanggamus. Maka keluarlah kalimat saat itu ‘Kusadang Kuesang!’ (Kuselempangkan Ususmu Sekarang) sambil berdiri. Mendengar itu controller terkejut dan ketakutan. Saat itu ada polisi perak. Yakni polisi dari Madura yang segera berdatangan melerai. Rapat akhirnya diskors,” terang Pun Edward.

Selanjutnya, para Saibatin dari 13 kebandaran lalu berkumpul semua di Kebandaran Rajabasa Semoung.

“Kalau sampai Pangeran Ibnu Hasan diambil Belanda maka kita sepakat berperang, akan masuk hutan dan perang di sepanjang Pesisir. Maka sudah mulai kirim utusan naik kuda ke beberapa wilayah lain. Menyampaikan bahwa kemungkinan jika Pangeran Ibnu Hasan ditangkap, maka akan terjadi perang. Belanda mendengar ini pun ketakutan dan tak melakukan apapun. Termasuk tak berani menangkap Pangeran Ibnu Hasan,” tandasnya.

Catatan sejarah ini ternyata juga ditemukan oleh Mochtar Hasan ketika dia menjabat sebagai Kepala Biro Hukum Depdagri.

“Beliau melihat arsip catatan-catatan dari Belanda. Dimana daerah-daerah yang perlu diperhatikan khusus salah satunya daerah di Tanggamus tersebut. Salah satunya ternyata ayahnya yakni Pangeran Ibnu Hasan memang sudah diincar oleh Belanda, dinilai sebagai tokoh yang melawan Belanda. Artinya, di Rajabasa Semoung ini terkenal dengan orang yang kuat menjaga harga diri,” ungkapnya.

Dari karakter kuat Pangeran Ibnu Hasan inilah kemudian menitis pada Mochtar Hasan. Dimana dia mampu muncul sebagai tokoh yang disegani.

“Termasuk yang bisa bersekolah di Bandar Lampung. Bahkan dulu disebut Manuk Bekhuga Jak  Semaka. Kenapa alm. Akan Mochtar Hasan sampai mendapat istilah Manuk Bekhuga Jak Semaka? Adalah saat orang-orang dari Semoung Tanggamus belum banyak sekolah setingkat SMP ke Tanjungkarang. Saat itu, Akan Mochtar dengan lulus terbaik dan mendapat biaya sekolah di Bandar Lampung. Saat itu masyarakat Semaka banyak yang bertanya; Manuk Bekhuga Jak Ipa? Yang lain menjawab; Manuk Bekhuga Jak Semuwong. Dan kemudian sejak itu beliau dikenal sebagai Sang Manuk Bekhuga Jak Tanah Semaka,”” ujarnya.

Pun Edward menambahkan, setelah sejarah panjang yang diukir Almarhum Mochtar Hasan, berakhir dengan menutup sejarah kehidupannya pada 2 September 2019.

Dengan suara bergetar, Pun Edward menyatakan, Alm. Mochtar Hasan telah menutup sejarah hidupnya dengan kebaikan.

“Insya Allah husnul khatimah. Insya Allah mewakili semangat kecerdasan, keberanian, serta kecintaan terhadap tanah air. Sang Manuk Bekhuga dari Semaka, Pengeran Indra Bangsawan, Saibatin Kebandaran Rajabasa Semoung Tanggamus. Semoga semangat kepemimpinannya selalu bisa kita teladani,” pungkasnya. (rci)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *