Kisah Kakek Boncel, Pendongeng Senior  yang Bertahan Ditengah Gempuran Kecanggihan Zaman

  • Whatsapp
Kakek Boncel. Foto Hendra Irawan/radarcom.id
Kakek Boncel. Foto Hendra Irawan/radarcom.id

Matanya berbinar-binar mengisahkan dongeng perjuangan antara kebenaran melawan kebatinan. Suaranya kadang menjadi apa saja, memerankan tokoh dongeng yang dikisahkan. Itulah, sekilas penampilan Kakek Boncel, seniman sekaligus sang Pendongeng senior asal Lampung. Seperti apa kisahnya?

Laporan: Hendra Irawan/radarcom.id
BANDAR LAMPUNG

Bacaan Lainnya

Melihat zaman yang semakin maju dan minat anak untuk membaca terus berkurang, dua hal yang kini mengusik Kakek Boncel. Namun semangatnya tak pernah surut. Dia terus menerbitkan buku anak-anak.

Penerbitan buku cerita lebih pada tingkat Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) tersebut dilatarbelakangi untuk mengajak anak-anak agar lebih gemar lagi dalam membaca.

“Melihat anak-anak saat ini, saya merasa prihatin karena lebih senang bermain Handphone (HP) dari pada membaca buku. Saat ini, sudah waktunya para orang tua dan guru agar mendorong anak-anak lebih gemar dalam membaca,” ujar Samuel Bambang Muhariono Heri Santoso yang lebih akrab disapa Kakek Boncel selaku Pendogeng Senior asal Lampung saat berbincang dengan radarcom.id, Senin (8/7/2019).

Kakek Boncel mengatakan, cerita yang ditulis di dalam buku tersebut yakni menceritakan tentang persahabatan hewan. Seperti antara Rubah dengan burung Bangau, Timun Mas dengan Buto Ijo. Selain itu, cerita rakyat Lampung juga ada, salah satunya yaitu Akik Pandan Ungu dari Way Kanan. Juga tentang buaya di Sungai Tulang Bawang.

“Semua buku cerita dongeng yang ditulis adalah hasil karangan saya sendiri,” ujarnya.

Sembari membetulkan jenggotnya yang memutih, Kakek Boncel mengatakan, setiap satu buku yang diterbitkan terdapat satu cerita. Harga buku dibanderol cukup terjangkau hanya Rp 5.000 per eksemplar.

“Untuk saat ini, sudah tersusun 275 cerita, dan akan mengeluarkan kembali cerita terbarunya yang masih dalam proses pengetikan. Buku tersebut diterbitkan untuk kalangan sendiri, belum melalui penerbit dikarenakan keterbatasan dana,” paparnya.

Cerita yang ditulis dibuku ini, sudah disiarkan melalui acara Kakek Boncel Mendongeng, di Radio Suara Wajar 96,8 FM, pada setiap hari Minggu, Pukul 09.00 – 09.30, berikut lagu anak-anak.

Kakek Boncel juga mengamen ke Paud, TK, dan SD, dan ke beberapa provinsi diantaranya, Lampung, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah Jogja, Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Bagi yang punya acara, kemudian mau pesan hiburan mendongen untuk anak-anak juga bisa, selain menghibur, seni mendongeng juga memiliki pesan moral didalamnya.

Tarif mendongeng bisa disesuaikan menurut kemampuan masing-masing. Cocok untuk acara ulang tahun anak dan acara disekolah.

Kakek Boncel dalam mendongeng menggunakan alat peraga wayang buatan sendiri. Saat ini sudah ada sekitar 3000-an lebih pelaku yang dibuat sendiri.

“Saya pernah jadi sutradara pemain teater di tahun 1970-1981, di studio klub teater mahasiswa Salatiga, teater Lasarus Salatiga tahun 70-74, di Bandarlampung Teater Navili 77-81. Lalu menjadi wartawan dan penyiar radio, terutama acara mendongeng. Guru tahun 1975, terakhir jadi pengawas sekolah dari 1999-2010, pangkat terakhir pembina utama madya golongan 4D, sekarang pensiun menekuni dongeng, dan sering menjadi pelatih dan juri mendongeng,” tandasnya.

Info lebih lanjut, bisa datang ke Rumah Dongeng Kakek Boncel yang beralamat di jalan Vanili, Blok W No.11, Komplek Perumahan Beringin Raya, Kel. Beringin Raya, Kec. Kemiling Bandarlampung, atau Tlp Ke 085382028937. (hen/rci)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *