Anti Narkoba Tony Eka Candra: Berantas Narkoba Harus Tegas, Tembak Mati Bandar hingga Blank...

Tony Eka Candra: Berantas Narkoba Harus Tegas, Tembak Mati Bandar hingga Blank Spot di Penjara (2)

Grafis tangkapan kasus narkoba BNN dan Polri selama 2018. Grafis ©radarcom.id

radarcom.id – Saat ini peredaran Narkoba sudah sangat luar biasa hingga menjangkau hampir di seluruh pelosok desa. Termasuk di Provinsi Lampung. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal.

Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Provinsi Lampung H. Tony Eka Candra bersama Ketua Umum Granat KRH Henry Yosodiningrat saat turun melakukan aksi pengawalan pemberantasan Narkoba di Lampung. Foto Granat Lampung for radarcom.id

Ketua DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Provinsi Lampung H. Tony Eka Candra mengatakan, narkoba terus masuk ke Indoensia disebabkan keterbatasan aparatur baik TNI, Polri, BNN dan pihak terkait seperti Bea Cukai, penjaga perbatasan dan lainnya yang terkait.

Ketua DPD Granat Provinsi Lampung H. Tony Eka Candra bersama Kepala BNN Komjen Pol Heru Winarko dalam sebuah kesempatan. Foto Istimewa

“Untuk menjaga perbatasan Negara kita, dimana bentangan garis pantai kita itu sangat panjang. Bahkan nomor dua terpanjang di dunia. Belum lagi perbatasan darat dengan Negara tetangga. Pengamanan di jalur masuk penerbangan atau bandara. Sedangkan aparatur penjaga perbatasan kita juga terbatas. Sedangkan di sana banyak sekali celah masuk narkoba melalui pelabuhan tikus, jalan-jalan tikus hutan yang dipergunakan untuk menyelundupkan narkoba,” kata Tony saat diwawancarai secara khusus oleh radarcom.id di kediamannya di Bandar Lampung, Senin (28/1).

Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi Lampung itu meneruskan, salah satu caranya adalah dengan melibatkan seluruh masyarakat. “Jadi jika ada hal-hal yang mencurigakan, bisa langsung hubungi aparat. Begitu juga masyarakat di lingkungan masing-masing. Jika ada yang mencurigakan, langsung kontak aparat,” tegasnya.

BACA  Nursalim Solidkan 120 Relawan PKS Lampung Tengah

Ketua PD VIII FKPPI Provinsi Lampung itu meneruskan, pemberantasan narkoba harus dikuatkan dalam hal pencegahan (preventif) dan penindakan (represif) penegakan hukum (law enforcement).  Pencegahan dengan dukungan dari pemerintah daerah. Yakni dengan ikut menyediakan anggaran yang memadai untuk pemberantasan narkoba ini. Untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat secara luas dan tepat sasaran.

Tindakan represif dalam penegakan hukum harus ditempuh tindakan tegas. Bahkan jika perlu tembak mati bagi Bandar besar narkoba yang melawan BNN saat diamankan.

“Menurut saya, tindakan tegas harus ditempuh agar menimbulkan efek jera. Tembak mati saja Bandar besar narkoba yang melawan saat diamankan BNN. Jangan ada keraguan melanggar HAM. Sebab, dampak dari peredaran narkoba yang mereka jual, jauh lebih merusak bangsa dan masa depan  generasi kita,” tegasnya.

Tindakan tegas kedua, kata Tony juga diberlakukan untuk oknum aparat yang ikut membekingi dan terlibat sindikat narkoba.

“Oknum yang terlibat itu bisa disebut pengkhianat bangsa. Bisa ditindak tegas juga karena mereka ikut terlibat narkoba dan agar bisa ada efek jera di jajaran aparatur,” terangnya.

BACA  Puluhan Mahasiswa SQABM Ikuti Pembekalan Sebelum Terjun PPL di Desa

Selain itu, narkoba selama ini diketahui ternyata justru dikendalikan dari balik penjara. Untuk itu, Tony mendesak agar diberantasnya peredaran narkoba dari balik penjara. Salah satunya diterapkannya blank spot untuk memutus komunikasi antara napi pengendali narkoba dengan kaki tangannya di luar.

“Jadi harus diterapkan zona blank spot di penjara. Agar napi tak bisa mengendalikan narkoba dari lapas maupun rutan melalui komunikasi yang diputus. Di penjara cukup disediakan satu telepon non seluler yang ada di ruangan kalapas atau karutan saja. Oknum yang terlibat membantu peredaran narkoba dari lapas atau rutan, ditindak tegas biar jera,” tegasnya.

Untuk rehabilitasi pecandu narkoba, Tony menyarankan agar dipilah mana pecandu narkoba yang masih punya harapan dan oknum aparat baik TNI, Polri, ASN maupun lainnya. “Jika pecandu masih memiliki harapan masa depan maka agar dibina dan dipulihkan. Sedangkan oknum aparat, maka harus diberikan sanksi yang tegas agar ada efek jera,” terangnya.

Tony meneruskan, dibutuhkan semangat yang sama dari seluruh komponen bangsa dari lembaga pemerintah, aparatur negara, masyarakat sipil. Untuk bersama-sama melakukan pencegahan dan penanggulangan narkoba. Untuk bisa terbebas dari cengkeraman bahaya narkoba.

BACA  Ketum DPP Granat Henry Yosodiningrat Sosialisasi Bahaya Narkoba ke Generasi Milenial

“Provinsi Lampung ada di peringkat nomor 3 tertinggi di Sumatera dalam hal peredaran narkoba. Serta peringkat nomor 8 di Indonesia. Jadi, hukuman mati para bandar besar, tidak melanggar HAM. Sebab narkoba adalah kejahatan kemanusiaan,” urainya.

Lanjut Tony, kita harus mencontoh Filipina yang berani menembak mati untuk melindungi bangsanya dari bahaya akibat penyalahgunaan narkoba. Juga mencontoh Amerika Serikat dalam memerangi narkoba. Contohnya, Amerika sampai menempuh operasi militer dan melanggar batas negara menangkap dua presiden yakni Honduras dan Panama. Juga membangun tembok perbatasan dengan Meksiko. Salah satu cara memberantas narkoba. Serta menyerang Afghanistan, yang merupakan pusat peredaran opium terbesar di dunia. Juga menyerang segi tiga emas. Semua itu  dalam rangka Amerika melindungi warga negara dari kejahatan kemanusiaan dengan segala cara.

“Maka, jika kita terus menemukan banyaknya narkoba yang masuk ke Negara ini, bukti bahwa Negara gagal melindungi rakyatnya. Sejauh ini, 80 persen narkoba berasal dari China. Selebihnya produk dalam negeri. Maka, kita harus bersatu melawan narkoba ini. Yakinlah rakyat dan bangsa Indonesia akan memberikan dukungan,” pungkasnya. (rci/habis)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini