BPOM dan Empat Perguruan Tinggi MoU Pengawasan Obat Makanan

  • Whatsapp
MoU BPOM Bandarlampung dengan empat perguruan tinggi. Foto Hendra Irawan/radarcom.id

radarcom.id — Pengawasan obat dan makanan kian hari makin beragam seiring berkembangnya teknologi informasi dan jalur distribusi pasar yang kian meluas.

Potensi kejahatan di bidang obat dan makanan sangat rentan terjadi. Terlebih di Indonesia yang cakupan wilayahnya sangat luas. Hal tersebut sangat diperlukan sinergi dan kolaborasi dari semua pihak untuk memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan di Indonesia, tak terkecuali pada Perguruan Tinggi.

Bacaan Lainnya

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bandarlampung bersama empat Perguruan Tinggi di Kota Bandarlampung berkomitmen meningkatkan pengawasan terhadap obat dan makanan. Dengan mengkukuhkan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) bersama empat Perguruan Tinggi diAntaranya, Universitas Lampung (Unila), Institut Teknologi Sumatera (Itera), Universitas Tulang Bawang (UTB) Lampung, dan Universitas Mitra (Umitra) Lampung.

Penandatanganan MoU turut dihadiri para wakil rektor, dekan, kepala bagian, kepala subbagian, tenaga kependidikan di lingkungan Unila, serta perwakilan mahasiswa Unila, Itera, UTB, dan Umitra Lampung.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Kepala BPOM Bandarlampung Dra. Syamsuliani, Apt, M.M. Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Hasriadi Mat Akin, M.P. Rektor Itera Prof. Ir. Ofyar Z. Tamin, M.Sc., Ph.D., Rektor UTB Lampung Dr. Agus Mardihartono, M.M., dan Wakil Rektor III Universitas Mitra Indonesia Lampung Armen Patria, S.Kp., M.M., M.Kes. Berlangsung di Aula Fakultas Pertanian Unila, Rabu (5/12).

”Nota kesepahaman bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya manusia dan sinergi pengawasan obat dan makanan di seluruh wilayah Lampung, yang pada akhirnya akan meningkatkan efektivitas sesuai fungsi dan kewenangan masing-masing lembaga,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Syamsuliani, kerja sama ini didasari kesadaran bahwa pengawasan obat dan makanan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu mendapat perhatian utama.

“Kami tidak akan bisa bekerja sendiri karena globalisasi, penyelundupan produk ilegal, koordinasi lintas satker, dan keterbatasan sumber daya menjadi tantangan yang sangat besar bagi BPOM. Untuk itu kami harus mengembangkan kerja sama dengan berbagai pihak,” ungkapnya.

Rektor Unila Prof Hasriadi mengatakan, di era industri 4.0 ini semua pihak harus bekerja sama membangun sumber daya manusia, terutama di bidang pengawasan obat dan makanan. Unila dengan berbagai program studi yang bergerak di bidang kesehatan juga berencana membangun gedung pusat riset awal tahun 2020 mendatang.

“Ini latar belakang kita membangun kerja sama agar dapat meningkatkan kompetensi dan inovasi-inovasi yang berhubungan dengan obat dan makanan,” pungkasnya. (hen/rci)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *