Berita Utama Pergantian Kapolda Lampung, Ini Sejumlah Catatan LPW

Pergantian Kapolda Lampung, Ini Sejumlah Catatan LPW

Sumber : Lampung Police Watch. Grafis : Juli Suprapto/radarcom.id
radarcom.id – Pergantian Kapolda Lampung dari Irjen Pol Suntana kepada Brigjen Pol Purwadi Arianto yang sebelumnya merupakan Wakapolda Metro Jaya diharapkan menjadi momen perbaikan di tubuh polri dan bukan sekedar penyegaran organisasi semata.
Ketua Lampung Police Watch (LPW) MD Rizani memberikan catatan dan masukan mengenai pergantian Kapolda Lampung. Menurutnya, mutasi diharapkan tak sekedar penyegaran organisasi. Tetapi mampu membawa perubahan paradigma jabatan Kapolda di Lampung. Agar tak ada stigma Kapolda Lampung hanya sebuah jabatan persinggahan.
“Kalau penyegaran di organisasi oke itu benar salah satunya. Tetapi pergantian Kapolda Lampung dari Pak Suntana ke Pak Purwadi, harus menjadi titik tolak untuk peningkatan kinerja polri di Lampung. Jangan sampai, Lampung yang Polda yang sudah tipe A, hanya tempat persinggahan saja,” kata Rizani saat diwawancarai radarcom.id, Kamis (16/8).
MD Rizani/Foto IST
Menurutnya, persinggahan dimaksud diantaranya jabatan kapolda hanya sebagai tempat persinggahan untuk promosi jabatan atau menjelang pensiun. Polisi, kata Rizani, harus tingkatkan penegakan hukum, pelayanan, pengabdian kepada masyarakat melalui sebuah kepemimpinan kapolda yang komprehensif.
“Lampung jangan hanya dijadikan tempat persinggahan untuk promosi jabatan atau jelang pensiun. Ingat, dengan tipe A, maka Kapolda baru akan mendapatkan satu bintang di Lampung. Tentu harus dibarengi dengan peningkatan pelayanan ke masyarakat, pengayoman dan penegakan hukum. Salah satunya bagaimana menjadikan polri dicintai masyarakat, sehingga warga tak takut saat mengadu ke polisi. Ada keramahan di wajah kepolisian serta penyuluhan hukum yang sampai di masyarakat. Kapoldanya harus bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya,” ungkapnya.
Rizani mencontohkan, era Kapolda Irjen Ike Edwin, ada terobosan polisi menemui masyarakat dan membuka komunikasi dengan berkantor di lapangan. Menurutnya, hal ini menjadi cara Ike Edwin untuk menjemput persoalan di masyarakat yang patut diapresiasi.
“Saya bukan membanggakan Ike Edwin, tetapi dia mampu membuat terobosan berkantor di luar, sehingga masyarakat bisa menyampaikan persoalan secara langsung. Dibutuhkan kepemimpinan yang seperti ini untuk mendekatkan institusi polri dengan masyarakat,” tukasnya.
Dalam penilaian LPW, Irjen Suntana selama menjabat di Lampung bisa disebut berprestasi. Diantaranya sukses mengamankan jalannya pesta demokrasi Pilkada serentak 27 Juni 2018, termasuk Pilgub Lampung yang kondusif dan tak ada konflik. Keberhasilan ini wajar jika kemudian Suntana berpindah pada jabatan baru sebagai Wakabaintelkam Mabes polri karena bisa saja dianggap mumpuni untuk pengamanan pemilu mendatang.
Namun catatan lain dari LPW, gelaran Pilgub kemarin sempat disorot dalam kaitan kasus money politics. Padahal ada lembaga Gakkumdu hingga kabupaten yang sudah dibentuk. Dugaan money politics pun sempat membayangi gelaran pilgub.
Selain itu, dalam kurun waktu enam bulan Suntana menjabat, ada dua bupati yang ditangkap KPK dalam kaitan kasus korupsi. Yakni Bupati Lamteng non aktif Mustafa dan Bupati Lamsel non aktif Zainuddin Hasan. Hal ini membuktikan bahwa kasus korupsi di Lampung juga menjadi sorotan tajam.
Kasus korupsi ini, imbuh dia, menjadi tantangan baru bagi Kapolda Lampung yang baru. Sebab, dua kepala daerah yang ditangkap KPK bisa jadi hanya sebuah gunung es.
“Jika menyimak pernyataan wakil ketua KPK Basaria Pandjaitan usai penangkapan Zainuddin Hasan, disampaikan bahwa kasus korupsi ini patut diduga juga terjadi di wilayah lain. Artinya, wilayah lain konteks kasus dugaan korupsi Zainuddin Hasan tentu di wilayah Lampung. Jadi analoginya sama seperti puncak gunung es,” ungkapnya.
Tantangan Brigjen Purwadi lainnya adalah penanganan kasus kriminalitas di Lampung. Dimana kasus kriminalitas cukup tinggi diantaranya begal.
“Sekarang orang merasa nggak aman. Naik motor baru bukan sekedar menjaga motor tetapi juga lehernya. Ini menjadi PR bersama apa akar masalahnya untuk sama-sama dituntaskan soal keamanan ini,” terangnya.
Terakhir, Rizani berharap Lampung tak hanya menjadi bibir Jakarta yang justru luput dari pandangan mata untuk sebuah kemajuan pelayanan kepolisian. Dia menganalogikan Jakarta adalah pusat sorot atau mata sedangkan Lampung ada di bibir.
“Sulit mata melihat langsung ke bibir. Dan seperti lampu sorot, Lampung berada di bawah lampu sorot yang justru tak terlihat. Saatnya ada peningkatan kinerja polri di Lampung dengan babak baru pergantian Kapolda Lampung yang baru,” pungkasnya. (rci/rci)
BACA  TAC Lampung Sukses Gelar Kopdar Workshop Peduli Kanker Serviks

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini