Kisah Veteran Berusia 102 Tahun Asal Lamteng, Ditangkap Belanda di Kutoharjo..

  • Whatsapp
H.R. Moch Slamet (102) pejuang kemerdekaan saat menghadiri upacara bendera HUT RI ke-73 di lapangan Gunungsugih, Jum'at (17/08). Foto Aditiya Sugito/radarcom.id
radarcom.id – Dengan jalan tertatih-tatih dan pendengaran yang minim, semangat kemerdekaan tetap membara di balik tubuh ringkihnya. Gelora semangat api perjuangan tetap tergambar dari kisah-kisahnya mengenai perjuangan merebut kemerdekaan. Meski di usia senjanya, sang veteran tetap bertahan di kehidupannya yang sederhana.
Dia adalah Letnan Satu (Lettu) H.R Moch. Slamet. Dengan pangkat terakhir itu, veteran asal Lampung Tengah itu kini usainya menginjak 102 tahun. Pagi tadi, dia tetap semangat mengikuti upacara bendera yang digelar oleh Pemkab Lamteng di lapangan Gunungsugih, Jum’at (17/8).

[irp posts=”844″ name=”Kreatif! Dua ‘Tank’ Buatan Terbanggibesar Pawai Keliling Kampung”]

Perwira TNI AD ini berbincang khusus dengan radarcom.id terkait perjuangan kemerdekaan. “Saya terakhir berdinas di Kodam Sriwijaya,” ujarnya.
Dengan sabarnya, Slamet membeberkan kisah sulitnya merebut kemerdekaan. Selain perang gerilya bertaruh nyawa, lanjut pria kelahiran 1916 itu, banyak duka dialami para pejuang. Diantaranya ditangkap Belanda.
Ketika perang jelang kemerdekaan, lanjut dia, saat itu usianya belum genap 30 tahun. “Dulu saya dengan teman-teman seperjuangan mengalami masa perjuangan. Kalau mau tak ceritain bisa seharian,” ungkap sang veteran.
Pengalamannya saat itu pernah ditangkap Belanda saat di Kutoharjo, Jogjakarta. “Namanya kami berjuang, saya tertangkap di Kutoharjo oleh Belanda. Setelah itu ditangkap lagi sama Jepang. Tapi dengan bahu-membahu, kita terus melawan penjajah,” ungkapnya sembari tangannya mengepal.
Terus berada di peperangan yang berkecamuk, pendengaran Slamet pun juga hampir tuli lantaran terlalu sering pekak oleh dentuman suara meriam. “Kupingku ini susah dengar karena sering mendengar dentuman meriam,” ungkapnya.
Meski begitu, Slamet tetap bangga dengan kemerdekaan bangsa ke 73 tahun ini. Dia mengaku selalu terharu jika ikut upacara bendera peringatan HUT RI. “Terharu selalu menangis saya,” ucapnya.
Slamet merupakan warga Kampung Purnamatunggal Kecamatan Way Pengubuan Lampung Tengah.
Di usia senja, Slamet hidup sederhana dan mengandalkan gaji veterannya. Dia mengaku bersyukur dan cukup bisa bertahan hidup. Meski bisa dibilang terasa berat untuk bisa dikatakan hidup secara baik bagi sang veteran.
Slamet mengaku sudah tidak mempunyai rutinitas lagi. Hanya mengandalkan perhatian dari sang anaknya.
“Meski sudah 73 tahun bangsa ini merdeka, masih banyak pekerjaan berat menanti di depan untuk membangun bangsa ini,” pungkasnya. (dit/rci)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *