Asal-Usul dan Hubungan Keratuan Darah Putih dengan Syarief Hidayatullah (1)

  • Whatsapp
Tari melinting. (polindonetwork/ist)

radarcom.id – Keratuan Darah Putih adalah salah satu kerajaan adat di Provinsi Lampung  yang berperan dalam penyebaran Agama Islam.

Saat ini, secara geografis, anak keturunan Keratuan Darah Putih mendiami wilayah dua kabupaten, Lampung Timur dan Lampung Selatan.

Bacaan Lainnya

Di Kabupaten Lampung Timur, anak keturunan Keratuan Darah Putih mendiami wilayah bagian Tenggara, diantaranya meliputi  kawasan Kecamatan  Labuhanmaringgai, Kecamatan Melinting dan sekitarnya.

Kemudian, di Kabupaten Lampung Selatan, lokasi pemukiman anak keturunan Keratuan Darah Putih berada di kawasan kaki Gunung Rajabasa, meliputi wilayah Kecamatan Kalianda dan Kecamatan Penengahan.

Selama ini cerita tentang asal-usul keluarga Keratuan Darah Putih yang berkembang di tengah masyarakat memang terkesan simpang-siur. Bahkan, ada mitos yang menyebut anak keturunan langsung keluarga kerajaan itu, memiliki darah yang berwarna  putih.

Lantas bagaimanakah sebenarnya asul-usul  terbentuknya Keratuan Darah Putih dan benarkah anak keturunannya memilik darah berwarana putih?

Berikut penuturan Nurhalim Gelar Minak Gejalo Ratu, keturunan Keratuan Darah Putih di Kecamatan Labuhanmaringgai Kabupaten Lampung Timur.

Menurut Nurhalim, cikal bakal terbentuknya Keratuan Darah Putih berasal dari Keratuan Pugung. Dia menuturkan, konon Ratu (Raja) Pugung mempunyai istri bernama Putri Lembah Kaca.

Sumber air tempat pemandian Ratu Darah Putih. (foto: ist)

Suatu ketika sang putri mandi di sungai. Saat sedang mandi, tiba-tiba Putri Lembah Kaca mendengar suara tangis bayi. Kemudian, sang putri memerintahkan Hulubalang (prajurit pengawal) mencari sumber suara tangisan bayi itu.

Setelah beberapa saat mencari, Hulubalang akhirnya menemukan tempat asal suara tangisan bayi tersebut yang ternyata dari dalam sebatang pohon bambu.

Batang bambu itu kemudian ditebang dan dibawa ke kediaman Ratu Pugung. Sesampainya di rumah Ratu Pugung, hulubalang diperintah untuk membelah batang bambu itu.

Hulubalang pun membelah batang bambu itu di hadapan  keluarga kerajaan.  Ajib, dari dalam belahan batang bambu, ditemukan seorang bayi laki-laki. Bayi laki-laki itu kemudian diangkat anak oleh pasangan Ratu Pugung dan Putri Lembah Kaca.

Oleh Ratu Pugung, sang bayi diberi nama Anak Dalam Kesuma Ratu. Setelah dewasa, Anak Dalam Kesuma Ratu  yang konon berperawakan tampan, gagah dan memiliki ilmu kesaktian tinggi itu, dinikahkan dengan  putri kandung Ratu Pugung bernama Ratu Galuh.

Dari pernikahan Anak Dalam Kesuma Ratu dengan Ratu Galuh,  lahirlah dua anak perempuan yang diberi nama Kendang Rarang dan Sinar Alam.

“Saat itu di Keratuan Pugung  terjadi teror kawanan perampok dan bajak laut yang kejam dan meresahkan rakyat kerajaan,” tutur Nurhalim.

Untuk mengatasi aksi teror kawanan perampok dan  bajak laut itu, Ratu Pugung berinisiatif  meminta bantuan dari pihak luar (Pulau Jawa). Surat permintaan batuan tersebut dikirim melalui burung merpati putih.

Surat tersebut secara kebetulan sampai ke tangan Syarief Hidayatullah, penguasa Kerajaan Cirebon yang juga anggota Wali Songo (Penyebar Agam Islam di Pulau Jawa).

Setelah membaca isi surat tersebut, Syarief Hidayatullah memutuskan untuk membatu Ratu Pugung. Maka berangkatlah ia menuju Kerajaan Pugung menyeberangi lautan menggunakan perahu. (Bersambung). (hlg/rci)

Sumber: Nurhalim Gelar Minak Gejalo Ratu di Labuhanmaringgai, Kabupaten Lampung Timur. Artikel ini dilansir dari harianlampung.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *